Memahami, memahamkan :)

Assalamu'alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sebenarnya saya ingin menulis hal ini sejak 2 hari lalu, tetapi mengkhawatirkan akan lebih banyak mudarat daripada manfaat, maka saya urungkan niat itu. Namun, jemari saya terkadang tak cukup mampu bersabar untuk hal-hal semacam ini. Pun, bukan sepenuhnya ini kesalahan sang jemari, sebab ada hati dan otak yg berkolaborasi sehingga membuatnya berbuat demikian. Maka, lagi-lagi saya memberanikan diri menuangkan pendapat melalui beberapa paragraf di bawah ini.

Saya tidak akan bicara dari segi IPA, sebab sewaktu SMA nilai IPA saya tidak terlalu bisa dibanggakan. Saya juga tidak akan bicara dari segi AGAMA, sebab ada guru-guru kita yang ilmunya jauh lebih mempuni, yang tak hanya mampu menyuguhkan  pendapat, tetapi juga menyuguhkan dalil-dalil yang kuat lagi menguatkan.

Terkait yang sedang dinanti-nanti banyak orang dengan banyak perencanaan; 'Tahun Baru Masehi'. Ya, saya pernah menjadi orang yang menantikan saat pergantian antara pukul 23.59 menuju pukul 00:00, antara tahun sebelumnya menuju tahun berikutnya. Pernah, artinya tidak lagi.

Bukankah sudah banyak akun2 di sosmed yang menyebarkan foto/vidio pengingat agar kita tidak menjadi satu dari beberapa yang menunggu saat itu lagi; dengan cara yang berbeda-beda; ada yg cenderung mengajak untuk meninggalkan, ada yang keras melarang untuk merayakan. Kedua cara ini saya rasa sama baiknya, dengan catatan hati kita harus bisa menerima rasionalisasinya terlebi duhulu.
Islam itu indah, tetapi indahnya tidak harus divisualisasikan dengan perayaan kembang api, bukan? Bukankah sudah ada hari2 tertentu yang diperuntukkan bagi umat islam dan kita diperbolehkan untuk merayakannya (dengan cara2 yang juga diperbolehkan tentunya). Jadi, persilakan kepada orang2 yang memang boleh bahkan harus merayakan 'tahun baru' ini untuk merayakannya dengan hikmat, tanpa perlu kita bantu atau kita ganggu :))

Selain banyaknya uang yg dibakar dan menyerupai kembang-kembang yg menyala di langit, bisingnya bunyi terompet, dan mengudaranya harapan-harapan ribuan orang untuk kebaikannya di tahun mendatang, apa yang menjadi keistimewaan di malam nanti? Tidak ada, kan? Pun, kalau memang tak sepenuhnya bisa meninggalkan perayaan (yang bukan milik agama Islam ini)--kalau memang tetap ingin mengabadikan saat2 pergantian tahun masehi, ada banyak hal yg bisa kita lakukan di rumah; selain bakar2 kembang api dan tiup2 terompet. Misalnya apa? Kita pasti bisa mengadakan kesibukan sendiri; tak berupa ritual ibadah juga tidak masalah, setidaknya tak menyelisihi aturan dalam islam.

Ayo kita alihkan kegiatan meramaikan jalan dan mengindahkan langit dengan hal2 lain yang lebih banyak manfaatnya dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Berikan ruang kepada mereka yang memang patut untuk merayakannya, karena bukan waktu kita untuk ikut turut serta di dalamnya.
(Untuk pembahasan lebih spesifik kita bisa tonton dan baca hal2 terkait hukum dan larangan perayaan tahun baru di media2 yang insyaa Allah bisa dipercaya, saya tidak berhak dan tak cukup berilmu untuk menjelaskannya di sini).

Diyakini tulisan di atas terdapat banyak kesalahan, baik dari segi ejaan maupun konten, sebab yang menulis ini ialah seorang yang fakir ilmu. Tidak untuk menggurui atau sebagai wujud pernyataan 'ana lebih baik daripada antum'. Silakan ambil yang baik (jika ada), buang yang buruk (jika banyak).
Terima kasih. Wassalamu'alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Pekanbaru, 31 Desember 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Sastra Pragmatik_Novel Sebelas Patriot

Kauniyah Oil; si Botol Hijau dengan Khasiat Memukau

Berlembar Narasi Tentang Mengabdi