Kapan Wisuda?

Betapa dalamnya makna dari pertayaan 'KAPAN WISUDA?'

Apa yang salah dengan kalimat tanya di atas?
Dalam konteks bercanda, tak sedikit mahasiswa yang mengaku sangat sensitif sehingga ketika ada yang mengajukan pertanyaan semacam itu, jawaban yang lebih sering saya dengar adalah ''Jangan ngomong jorok!'' dan sejenisnya.
Bagi saya ini merupakan kalimat tanya nan sakral dan memang sudah sepantasnya dilontarkan kepada mahasiswa yang keberadaannya di kampus terbilang cukup lama (biasanya tingkat tiga ke atas), terlepas siapa orang yang menanyakan hal tersebut.

Jika memang belum mampu  memberikan jawaban berupa kabar baik atas pertanyaan itu seperti (in syaa Allah pekan depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan), maka tak ada salahnya agar kita biasakan mencari diksi lain yang mungkin lebih indah untuk didengar, semisal ("Do'akan saja, ya.", "Ini sedang diusahakan, kok.", atau 'Kamu mau bantu saya?').
Kita tahu dan saling memaklumi bahwa setiap fakultas, prodi, bahkan judul penelitian dari masing-masing kita memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Selain itu, tak semua orang diberikan oleh Allah kemudahan berupa dosen pembimbing yang selalu ada di setiap kita membutuhkannya. Karenanya tak heran jika masih ada sebagian dari kita tertahan di kampus oleh beberapa sebab yang tadi telah disebutkan di atas, atau alasan-alasan pribadi lainnya seperti; masih beramanah di organisasi tertentu atau masih ingin menikmati status sebagai mahasiswa yang semulanya itu tak mudah untuk didapatkan.

Terlepas dari itu semua, percayalah, pertanyaan 'Kapan Wisuda?' itu sejatinya mengandung makna yang mendalam, sakral, dan seharusnya menjadi motivasi bagi kita agar tak lantas menundanya pun tak pula memaksakan diri agar lekas dapat mewujudkannya. Sebab, dari sekian banyak alasan atau dalih yang membuat kita masih tertahan dengan status mahasiswa hari ini tidak akan lahir jika tidak bermula dari izin dan amanah  orang tua kita yang saat ini menanti kepulangan kita di kampung; yakni diamanahi untuk menuntut ilmu dengan harap sepulang dari perantauan nanti kita dapat menjadi anak yang bisa diharapkan (dunia dan akhirat).

Sekali lagi, wisuda merupakan takdir yang harus dicintai melalui ikhtiar dan dijemput dengan dibantu oleh do'a.

Dari mahasiswa akhir
Untuk mahasiswa akhir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Sastra Pragmatik_Novel Sebelas Patriot

Kauniyah Oil; si Botol Hijau dengan Khasiat Memukau

Berlembar Narasi Tentang Mengabdi