Postingan

Sepucuk Pujian

Ummi.  Sapaan ini sejatinya merujuk kepada seorang wanita istimewa yang bagi sebagian besar manusia di bumi ialah Ibu. Namun bagi saya sendiri--setelah melalui proses penyimpulan lebih dari dua dekade lamanya, saya dapat dengan bebas menganggap beliau sebagai seorang Ibu maupun Ayah di waktu yang bersamaan.  Dari sudut rupa dan fitrahnya, Ia merupakan seorang wanita yang memakau dalam kesederhanaan, dikaruniai sifat keibuan dan sarat kasih sayang, serta lengkap dengan bakat memasak yang jam terbangnya tak akan mampu saya lampaui. Namun, dari sisi yang tak dapat dilihat oleh orang banyak, Ia diberikan kelebihan lain berupa ketangguhan hati yang tak semua diri dapat miliki. Air mata seolah menjadi sesuatu yang asing baginya. Bukan sebab hidupnya tak pernah dirundung kesedihan, melainkan mungkin jumlah nikmat yang Ia harus syukuri jauh lebih banyak dari pada kesedihan-kesedihan itu. Bila dekat menghangatkan, bila jauh hati tak berhenti merinduinya. Sehari saja tak mendapat atau ...

Tentang Pemujian, Pengakuan, Pembelaan, Kesepakatan, dan Kerendahan Hati.

Ini cerita tentang kita yang berusaha merendahkan hati. Tentang sebuah pemujian. Tentang sebuah pengkauan. Tentang sebuah pembelaan. Juga tentang sebuah kesepakatan.  Sebuah pujian darimu tentang bergelimangnya lebihku, yang aku bermuasal dari singgasana yang saling berbagi bahagia. Juga sebuah pengakuan tentang terbatasnya dirimu, yang bermuasal dari rapuhnya sebuah dinding yang terlalu sering terbias air mata. Namun, bagiku kamu teramat pantas untuk disanjung. Sebab kamu memiliki kekayaan dalam bersikap dan bertutur kata. Bukankah tak pernah hatiku tersayat oleh lidahmu yang tak kenal sembilu itu? Lalu, aku mencoba menyamaratakan kita. Sebuah usaha untuk menghibur dirimu yang merasa telah kutinggalkan jauh. Dengar! Tidak hanya harimu yang pernah diramaikan sedih, boleh jadi aku selama ini hanya terlihat baik-baik saja, tanpa pernah kamu tahu bahwa ada luka di balik bekas balutan yang tertutup rapat oleh senyumku. Akhirnya. Kita memilih untuk mensyukuri kelebihan yang kita punya. ...

Yang Sulit dari Sebuah Ketulusan

Wujud dari tulus memberi adalah ketika kita tidak lagi menjengkal seberapa dalam bahagia yang akan dirasakan oleh orang yang menerima pemberian itu. Wujud dari tulus memberi adalah ketika kita tidak lagi mengira-ngira ucapan terima kasih sedahsyat apa yang akan mulutnya katakan dan apa yang akan telinga kita dengarkan. Wujud dari tulus memberi adalah ketika kita tidak lagi menunggu balasan apa yang akan kita peroleh darinya. Wujud dari tulus memberi adalah ketika kita telah melapangkan dada apabila yang kita beri  sepenuh hati justru tak berarti besar baginya. Wujud dari tulus memberi adalah ketika kita tetap dan terus memberi setelah mengetahui bahwa dia tak membalas apa yang sebelumnya kita beri kepadanya. (Novia Fahronnisya)

Mereka yang Memunggungi Janjinya

Satu persatu pergi, yang tetap tinggal hanya mereka yang masih mengerti makna setia. Pada akhirnya semua perlahan beranjak, memunggungi janji yang pernah mereka buat secara sadar di masa-masa manis itu. Puisi-puisi mengikat yang pernah mereka rangkai juga seakan telah berakhir sebagai serangkaian kalimat biasa yang tak lagi bernyawa.  Aku, tak pernah begitu menyukai perpisahan, walau sadar semua itu merupakan kepastian yang tak terelakkan dalam hidup. Datang dan meninggalkan seolah menjadi hukum alam yang juga tak boleh ditolak. Dan kini, masing-masing mereka sedang sibuk menikmati jalan sendiri tanpa pernah ingin menoleh ke belakang. Seolah tak pernah ada cerita yang ditulis dan tak ada yang layak pula untuk dikenang. Silakan jika ingin pergi. Toh, dahulu ketika menyambutmu datang sebagai sesuatu, artinya aku juga sudah bersedia apabila kau tinggalkan sewaktu-waktu. 

Tentang yang Menetap dan yang Meninggalkan

Menunjukkan hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah harus, tetapi, jujur akan sisi kurangmu juga tak kalah penting. Agar apa? Apabila yang tampak darimu hanyalah kelebihan yang disukai banyak orang, maka wajar jika banyak pula yang bertahan. Namun, apabila kamu berterus-terang bahwa di dalam dirimu sarat akan ketidaksempurnaan, maka di situlah kamu bisa melihat siapa yang pergi dan siapa pula yang jujur menemani. Adapun yang menetap, semoga dia menjadi yang bersedia menerima dan membersamaimu menuju perbaikan. Sedangkan yang memilih pergi, semoga waktu perlahan membuka lebar matanya, bahwa dia hanya akan menghabiskan waktu untuk sebuah pencarian panjang akan suatu 'kemustahilan' yang bernama 'kesempurnaan'.

Menulis Hobi, Mendidik Jati Diri

Satu bulan bukanlah waktu yang lama untuk proses pamahaman, bukan pula waktu yang sekejap untuk sebuah penantian. Semulanya, saya kira menjadi seorang guru akan dituntut keras untuk menerapkan teori yang diterima selama kurang lebih empat tahun mengenyam pendidikan di dunia perkuliahan. Namun, perkiraan itu saya bantah sendiri hanya dalam waktu beberapa hari saja. Sabar, merupakan satu hal yang lebih didahulukan daripada kecerdasan dan kepiawaian dalam beretorika. Mulai dari menghadapi pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab, merapikan kerudung dan dasi yang tidak berada di tempatnya, sampai hanya membukakan tutup botol atau kemasan makanan ringan mereka. Beberapa hal yang di atas saya sebutkan tidaklah membutuhkan rumus, tidak harus terlebih dahulu membuka KBBI, dan tak mesti mengilas-kilas kembali teori kesastraan yang pernah saya pelajari. Hanya sabar yang perlu ditanam, selalu dipupuk, dan terus dipelihara hingga melahirkan rasa cinta. Adapun perihal keikhlasan, lidah sama s...

Kujemput S.Pd. dengan Biidznillah

Bismillah. Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Tulisan kali ini berisikan cerita tentang bagaimana saya berproses sejak awal mengajukan judul hingga ujian sarjana dapat saya lewati dengan penuh haru pada 02 Mei 2019 silam Sejak saya masih menjadi mahasiswa semester bawah dan belum mengenal baik sesuatu yang orang-orang namai dengan tugas akhir, saya sempat mengikuti anggapan orang kebanyakan; bahwa skripsi merupakan suatu hal yang jorok. Adapun pembahasan perihal ‘dirinya’ merupakan suatu pembicaraan yang tidak begitu perlu ditanggapi serius, lebih sering dianggap pembahasan yang belum masanya untuk dipikirkan. Namun, suatu ketika, kebiasaan mengikuti anggapan semacam itu perlahan saya tinggalkan. Sejak saya rasa usia saya yang mulai memasuki kepala dua itu cukup tua untuk terus bergantung hidup dengan orang tua, sejak Ummi mulai sering meminta pulang tetapi saya tak selalu mampu untuk menurutinya karena terikat dengan waktu kuliah, sejak beberapa orang senior b...