Kritik Sastra Objektif_Cerpen Selembar Cinta untuk Sofia

Nama          : Novia Fahronnisya
Mata Kuliah : Menulis Kritik dan Esai
Tugas          : Menulis Kritik Sastra Menggunakan Pendekatan Objektif
Objek yang dikritik : Cerpen “Selembar Cinta untuk Sofia” (Karya Novia Fahronnisya)

--Kritik Sastra Menggunakan Pendekatan Objektif pada Cerpen ‘Selembar Cinta untuk Sofia’--

       Cerpen berjudul ‘Selembar Cinta untuk Sofia’ menceritakan tentang mimpi seorang anak manusia. Sofia, begitu sang penulis menamai tokoh utama dari cerpen ini. Sofia adalah penderita tuna netra yang dahulunya memiliki ketertarikan dan bakat dalam bidang fotografi. Dari bakat tersebut Sofia telah banyak mendulang prestasi. Kejayaan yang didapatinya dalam bidang fotografi tersebut ingin ia teruskan dengan mencoba mendaftar pada jurusan Photografi di Institut Seni Yogyakarta (ISY). Namun takdir saat itu belum memihak pada dirinya. Di suatu hari, bertepatan pada hari dimana ia dinyatakan telah lulus seleksi di ISY, Sofia dan ayahnya mengalami kecelakaan. Dari kecelakaan tersebut, sang ayah dinyatakan meninggal dunia, sedangkan Sofia harus menelan pil pahit setelah ia dinyatakan telah mengalami kebutaan. Sejak saat itu, Sofia harus menerima kenyataan bahwa ia harus mengubur mimpinya untuk menjadi fotografer handal hingga waktu yang  tak ditentukan. Sampai akhirnya pada suatu hari, pasca sepeninggal adiknya yang bernama Alesha, kuasa Allah telah tiba. Melalui selembar surat yang Alm. Alesha titipkan kepada Ibunya, Alesha menyatakan bahwa ia ingin kedua matanya dihibahkan kepada sang kakak sebagai wujud terimakasihnya kepada sang kakak atas segala hal yang telah sang kakak berikan kepadanya.
       Sofia merupakan seorang yang gigih, hal ini dapat dilihat dari banyaknya prestasi yang ia dapati atas bakat yang dimilikinya. Pembuktian akan hal tersebut dapat dilihat pada paragraf ketiga yang berbunyi “di lemari kamarku juga masih terpajang rapi beberapa tropi yang pernah kuterima saat memenangkan lomba Foto Moment, dulu. Aku merupakan salah satu orang yang paling antusias melibatkan mata dan lensa kameraku dalam event-event semacam itu”.
        Selain itu, Sofia juga penyabar, meskipun takdir yang begitu pahit menimpa dirinya, ia tetap mencoba menjalani hidup sebagaimana mestinya, “ummi selalu berkata, bahwa di dalam diriku mengalir darah seorang Ayah yang penyabar dan selalu bertawakkal kepada Allah. Dan aku berjanji, nikmat penglihatan yang telah Allah ambil dariku tak akan aku jadikan alasan untuk tak menjadi seperti Ayah.”. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kebutaan yang dialaminya tidak lanta menjadikan Sofia lemah.
       Sofia memiliki seorang ibu yang amat penyayang, tegar, dan senantiasa menyemangatinya kala Soofia melemah lemah.
       “Ummi berusaha setegar mungkin menjelaskan apa yang telah terjadi.”,
       “Ummi mendekapku, membisikkan beberapa bait kata mutiara agar aku tetap tegar dan harus menerima kenyataan yang tak kami harapkan itu.”
        Kedua kutipan di atas cukup menunjukan bahwa Sofia amat beruntuk lahir dari Rahim seorang ibu dengan berbagai keluarbiasaan dan kelembutan hatinya.
        Alesha, begitu nama adik sematawayang yang dicintai Sofia. Sama halnya dengan sang kakak, Alesha adalah seorang yang penyayang, ia tidak sungkan berbagi dengan sang kakak dalam banyak hal. Sebelum Alesha meninggal, ia sempat menitipkan surat kepada sang Ibu untuk sang kakak. Ia beritikad untuk mengibahkan matanya kepada sang kakak. “Jika aku telah tidak ada lagi, izinkan aku membalas kebaikkan Mbak, aku ingin memberikan kedua mataku ini untuk Mbak. Aku ingin mbak melanjutkan cita-cita Mbak untuk kuliah dan menjadi fotografer hebat” Hal tersebut membuktikan bahwa Alesha begitu mencintai sang kakak.
         Cerpen ini menggunakan alur bolak-balik. Dimana pada lima paragraf pertama mengilas balik tentang masa kejayaan Sofia sebelum menjadi buta, sempat juga sedikit menyinggung apa penyebab kebutaannya, hingga akhirnya adiknya meninggal dan menghibahkan matanya kepada Sofia.
        Cerpen ini mengambil latar tempat rumah dan pemakaman. Hal ini dapat di lihat pada kutipan berikut: “ Kata Ummi kamarku ini masih seperti dua tahun lalu, tidak ada satupun barang yang bergeser dari tempatnya seperti yang kulihat terakhir kali. Di dinding kamarku masih terpajang beberapa foto objek-objek alam yang menjadi favoritku dulu; Senja di Tepi Dermaga Tua, Gadis Pengais Cinta di Pesisir Kota dan Lapuknya Fajar di Ujung Penantian.” dan “Pelayat berangsur berbalik badan meninggalkan pemakaman Alesha. Sementara itu di samping makam, aku dan Ummi masih setia duduk dengan kepala tertunduk.”.
Sementara latar waktunya adalah di pagi hari, di sore hari, dan pada hari ketiga setelah kepergian Alesha. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut: “Pagi ini masih sama, aku tak dapat menyaksikan sinar matahari masuk melalui etalase kamarku”, “Kudengar suasana di rumah sudah tidak seramai tadi siang.” dan “Hari ini merupakan hari ketiga kepergian Alesha, aku sudah merasa sedikit lebih baik, begitu juga Ummi”.
         Suasana yang terdapat dalam cerpen ini sebagian besar menyedihkan dan mengharukan. Di awali dengan cerita tentang kecelakaan yang menjadi penyebab meninggalnya sang ayah dan kebutaan Sofia hingga akhirnya ia harus mengubur cita-citanya, sampai pada berita meninggalnya Alesha dan surat yang berisikan Alesha yang berniat menghibahkan matanya kepada Sofia.
        Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama, dimana Sofia lah yang menjadi pelaku utamanya; “aku tak dapat menyaksikan sinar matahari masuk melalui etalase kamarku.”.
        Cerpen ini menginspirasi dan sarat akan pesan keagamaan dan moral. Dapat dilihat bahwa cerpen ini menceritakan sosok Sofia yang gigih dan tetap sabar dalam menghadapi kenyataan pahit. Sofia selalu melibatkan Allah dalam setiap keadaan. Tidak ada kejadian yang tak disusul oleh serangkaian hikmah, hal tersebut dibuktikan oleh cerpen ini. Dimana terdapat hikmah atas kepergian adik sematawayangnya yang sempat meninggalkan luka mendalam, yakni Allah memberikan kesempatan padanya untuk melihat lagi dan meneruskan cita-citanya.

Unsur instrinsik dalam cerpen “Selembar Cinta untuk Sofia”

Tema : cita-cita dan cinta.
Tokoh dan penokohan:
Sofia : gadis remaja yang amat gigih, memiliki semangat juang yang tinggi, penyabar dan penyayang.
Ummi : Ummi merupakan seorang ibu yang memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada anak-anaknya, penyabar, dan senantiasa menjadi penyemangat anak-anaknya.
Alesha : Alesha merupakan adik sematawayang yang amat disayangi Sofia. Alesha mengidap penyakit usus buntu yang akhirnya merenggut nyawanya. Alesha ialah seorang adik yang memiliki rasa terimakasih dan menyayangi kakaknya. Terbukti sebelum ia meninggal, ia telah menulis sebuah surat yang berisikan iktikad baiknya untuk menghibahkan matanya kepada sang kakak.
Sudut Pandang : orang pertama
Alur : bolak-balik
Latar
waktu : pagi hari, sore hari, dan tiga hari setelah kepergian Alesha.
tempat : di kamar (di rumah Sofia), dan di pemakaman.
suasana : sedih dan mengharukan
Amanat :
Jadilah seseorang yang gigih apabila ingin mencapai suatu tujuan.
Bersabarlah dalam menghadapi ujian yang Allah tujukan pada kita.
Sertakanlah Allah pada setiap keadaan.
Berhusnudzanlah terhadap rencana dan takdir Allah.
Beryukurlah atas segala nikmat yang Allah berikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Sastra Mimetik_Cerpen Gerobak

Untukmu, yang Kelak Menggenggam Tanganku

Ummik; Sebab Mendarahdagingnya Rinduku