Postingan

Kujemput S.Pd. dengan Biidznillah

Bismillah. Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Tulisan kali ini berisikan cerita tentang bagaimana saya berproses sejak awal mengajukan judul hingga ujian sarjana dapat saya lewati dengan penuh haru pada 02 Mei 2019 silam Sejak saya masih menjadi mahasiswa semester bawah dan belum mengenal baik sesuatu yang orang-orang namai dengan tugas akhir, saya sempat mengikuti anggapan orang kebanyakan; bahwa skripsi merupakan suatu hal yang jorok. Adapun pembahasan perihal ‘dirinya’ merupakan suatu pembicaraan yang tidak begitu perlu ditanggapi serius, lebih sering dianggap pembahasan yang belum masanya untuk dipikirkan. Namun, suatu ketika, kebiasaan mengikuti anggapan semacam itu perlahan saya tinggalkan. Sejak saya rasa usia saya yang mulai memasuki kepala dua itu cukup tua untuk terus bergantung hidup dengan orang tua, sejak Ummi mulai sering meminta pulang tetapi saya tak selalu mampu untuk menurutinya karena terikat dengan waktu kuliah, sejak beberapa orang senior b...

Untukmu, yang Sedang Menanti

Tersebab segala kekosongan ini, kadang saya merasa semuanya terlalu cepat selesai. Ya, perasaan tersebut lahir dari ranah ketidakyakinan terhadap takdir. Lebih-lebih ketika saya melihat beberapa teman yang masih berbahagia dengan kesibukan akademisnya, yang masih asik memenuhi obsesi-obsesi dunia yang belum tercapai, dan yang masih bebas berkarya dengan menyandang status mahasiswa. Beberapa kali pernah saya dijajah perasaan kurang bersyukur, fatalnya ketidaksyukuran itu berada di atas semua yang telah saya targetkan dan realisasikan sendiri. Di saat-saat seperti ini pula saya pernah ingin berbalik ke belakang, untuk memperpanjang masa sebagai mahasiswa, untuk mengulur-ulur waktu mengerjakan skripsi, untuk bermalas-malasan memenuhi syarat administrasi setiap kali ingin melakukan ujian, dan untuk masih menyibukkan diri dengan hal-hal yang melelahkan tetapi begitu saya sukai. Namun, Ummi selalu berusaha menghibur saya dengan cara mengajak untuk berhusnudzan atas setiap apa yang telah sa...

Pentingnya Penggunaan Tanda Koma Sebelum Kata Sapaan pada Sebuah Dialog

Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Terlebih dahulu saya sampaikan, bahwa saya tidak mahir dalam menulis karya ilmiah. Maka jangan heran kalau nantinya tulisan ini cukup berantakan untuk dibaca dan cukup tawar untuk dapat dinikmati. Apa pentingnya penggunaan tanda koma sebelum kata sapaan dalam sebuah dialog? Jawabannya 👉 penting sekali! Mari kita amati contoh satu ini (ini yang sering terjadi). Mohon maaf, contohnya sedikit kurang santun, karena memang di lapangan saya pernah mendapati fatalnya pemaknaan dalam contoh berikut: "Selamat tahun baru babi" Sebenarnya kalimat di atas sudah ditulis dengan benar oleh penulisnya, tetapi diartikan berbeda oleh orang yang membacanya. Satu ketika menerima pesan ini di grup wA, kemudian saya meminta beberapa orang untuk memaknai kalimat di atas. Hasilnya, sebagian besar orang mengartikan tulisan tersebut bernada negatif. Mereka mengartikan bahwa si penulis mengucapkan selamat  tahun baru kepada seseorang y...

Sepuluh Tahun

-Dulu, Sekarang, dan yang Akan Datang- Jika berbicara sekarang dan dulu, maka saya tak dapat bercerita banyak tentang apa yang telah berubah. Yang saya tahu pertambahan usia tak dapat ditahan, pun penuaan di wajah tak dapat dicegah. Semakin hari semakin banyak jengkal tanah yang dilalui, semakin banyak wajah baru yang dikenali, semakin canggih teknologi yang dapat dimanfaatkan, dan semakin banyak pula sejarah yang tertulis dalam lembar-lembar hidup. Maaf, untuk tantangan kali ini saya tak dapat memenuhinya. Sebab tidak ada gambar yang bisa saya tampilkan untuk menunjukkan betapa kekanak-kanakannya saya yang dulu, dan seberapa mendewasanya saya hari ini. Sepuluh tahun yang lalu saya belum diperbolehkan oleh ayah untuk memiliki atau mengoperasikan alat canggih (baca: kamera dan sejenisnya) untuk dapat mengabadikan setiap hal penting yang terjadi, dan di saat sudah memiliki alat tersebut saya justru telah menjadi seseorang yang lebih memilih untuk menjadikan gambar-gambar terbaru sebag...

Kapan Wisuda?

Betapa dalamnya makna dari pertayaan 'KAPAN WISUDA?' Apa yang salah dengan kalimat tanya di atas? Dalam konteks bercanda, tak sedikit mahasiswa yang mengaku sangat sensitif sehingga ketika ada yang mengajukan pertanyaan semacam itu, jawaban yang lebih sering saya dengar adalah ''Jangan ngomong jorok!'' dan sejenisnya. Bagi saya ini merupakan kalimat tanya nan sakral dan memang sudah sepantasnya dilontarkan kepada mahasiswa yang keberadaannya di kampus terbilang cukup lama (biasanya tingkat tiga ke atas), terlepas siapa orang yang menanyakan hal tersebut. Jika memang belum mampu  memberikan jawaban berupa kabar baik atas pertanyaan itu seperti (in syaa Allah pekan depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan), maka tak ada salahnya agar kita biasakan mencari diksi lain yang mungkin lebih indah untuk didengar, semisal ("Do'akan saja, ya.", "Ini sedang diusahakan, kok.", atau 'Kamu mau bantu saya?'). Kita tahu dan saling memaklum...

PLP-ku Berlalu; Mewarnai, Terwarnai, atau Mempertahankan Warnaku Sendiri?

Semester tujuh telah terlewati dengan tenaga, waktu, dan keluhan yang sedikit lebih banyak dari enam semester sebelumnya. Setelah Kukerta yang menyisakan banyak cerita dan cita-cita untuk kembali ke Rupat Utara, aku disambut dengan sebuah kegiatan yang lelahnya tak terbersit sedikitpun dalam pikiranku, PLP (Pengenalan Lapangan Persekolahan). SMP N 34 Pekanbaru merupakan sekolah yang menjadi takdirku setelah yang sebenarnya kupilih ada sekolah yang berbasis islam; seperti MA N 1 atau _Future Islamic School_. Kenapa aku memilih sekolah tersebut? Alasannya sederhana, aku hanya ingin berada dalam zona yang aman bagiku yang mudah futur ini, aku ingin terhindar dari sentuhan dengan lawan jenis walau ia adalah muridku, aku ingin diperbolehkan mengenakan gamis ketika sekolah umum mewajibkan para guru mengenakan baju yang atasan dan bawahannya terpisah. Tetapi Allah punya rencana yang lebih baik, boleh dikatakan aku terdampar di sebuah sekolah yang namanya saja belum pernah kudengar sebelumnya...

Menanti Mati

Gambar
Entah ke mana akhirnya kapal itu pergi; bertambat pada dermaga yang telah lama akrab dengannya atau harus berkenalan dengan ombak besar yang bisa saja kelak membuatnya tak lagi kembali. Yang ia tahu ia punya seperangkat mesin dan alat pengendali, kendati sederhana, setidaknya kedua hal tersebut menunjukkan bahwa ia telah berupaya untuk pergi dan pulang dalam keadaan yang sama, ditambah sedang selaksa harapan yang ia lautkan tatkala tali-temali berlepas diri dari tiang-tiang tempat ia mengikat diri. Jika pada akhirnya usaha sederhana itu tidak membuatnya kembali, paling tidak ia telah pergi berbekal ikhtiar dan tawakal bahwa takdir Allah tak pernah salah menemui alamat. Bahwa hidup adalah usaha untuk mencari bekal sebanyak mungkin menjelang dihampiri oleh kematian.